Surat Al-An'am
Surat Al-An'am
(Qari: Ibrahim Al-Dossari)
0 0
وَكَيْفَ اَخَافُ مَآ اَشْرَكْتُمْ وَلَا تَخَافُوْنَ اَنَّكُمْ اَشْرَكْتُمْ بِاللّٰهِ مَا لَمْ يُنَزِّلْ بِهٖ عَلَيْكُمْ سُلْطٰنًا ۗفَاَيُّ الْفَرِيْقَيْنِ اَحَقُّ بِالْاَمْنِۚ اِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُوْنَۘ
Wa kaifa akhāfu mā asyraktum wa lā takhāfūna annakum asyraktum billāhi mā lam yunazzil bihī ‘alaikum sulṭānā(n), fa ayyul-farīqaini aḥaqqu bil-amn(i), in kuntum ta‘lamūn(a).
Bagaimana mungkin aku takut kepada yang kamu sekutukan (dengan Allah), padahal kamu tidak takut menyekutukan sesuatu dengan Allah yang Dia (sendiri) tidak pernah menurunkan kepadamu alasan apa pun. Maka, golongan yang manakah dari keduanya yang lebih berhak mendapat keamanan (dari malapetaka) jika kamu mengetahui?”
Qari: Ibrahim Al-Dossari
Tafsir Surat Al-An'am Ayat 81
Seharusnya yang ditakuti adalah pembangkangan mereka terhadap Allah dan dugaan mereka yang salah, yaitu menganggap patung-patung dan bintang-bintang sebagai Tuhan. Itulah sebabnya Allah mencela sikap mereka. Allah menjelaskan kepada mereka bahwa agama yang dapat diterima ialah agama yang mempunyai alasan-alasan yang kuat dan bukti-bukti yang dapat diterima, apalagi mereka hanya memeluk agama dengan jalan taklid saja kepada nenek moyang mereka. Perbuatan demikian tidak didasarkan pada hidayah dan ilmu. Kemudian mereka dihadapkan pada dua pilihan, yaitu memeluk agama tauhid atau kemusyrikan. Sedangkan mereka sudah mengetahui bahwa Allah mempunyai kekuasaan menciptakan dan memusnahkan, menghidupkan dan mematikan, sedangkan patung-patung itu tidak dapat memberikan manfaat dan madarat sedikit pun. Di akhir ayat ini Allah menyuruh Nabi Ibrahim agar meminta jawaban kepada mereka apabila mereka sanggup menjawabnya.
اَلَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَلَمْ يَلْبِسُوْٓا اِيْمَانَهُمْ بِظُلْمٍ اُولٰۤىِٕكَ لَهُمُ الْاَمْنُ وَهُمْ مُّهْتَدُوْنَ ࣖ
Al-lażīna āmanū wa lam yalbisū īmānahum biẓulmin ulā'ika lahumul-amnu wa hum muhtadūn(a).
Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezaliman (syirik), merekalah orang-orang yang mendapat rasa aman dan mendapat petunjuk.
Qari: Ibrahim Al-Dossari
Tafsir Surat Al-An'am Ayat 82
"Kami tidak menyembah mereka melainkan (berharap) agar mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya." (az-Zumar/39: 3)
Kezaliman yang dimaksudkan dalam ayat ini adalah syirik sesuai dengan hadis yang diriwayatkan oleh al-Bukhari, Muslim dan ahli-ahli hadis yang lain dari Abdullah bin Mas'ud, ia berkata, "Setelah turun ayat ini (al-Baqarah/2: 83), para sahabat berkeluh kesah, seraya berkata, siapa yang tidak menganiaya dirinya?" Rasulullah menjawab, "tidak seperti yang kamu pikirkan," sebagaimana firman Allah:
"Sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar." (Luqman/31: 13)
Orang-orang yang berhak mendapat perlindungan dalam ayat ini ialah orang-orang yang beragama tauhid yang murni tidak dicampuri dengan syirik sedikit pun. Mereka itu akan mendapatkan perlindungan dari bencana, bukan saja dari bencana yang akan ditimbulkan oleh patung-patung dan bintang-bintang seperti dugaan orang-orang musyrik, bahkan lebih dari itu mereka akan mendapat perlindungan dari azab Allah dan memperoleh jaminan untuk mendapat pahala dari Allah. Merekalah orang-orang yang mendapat petunjuk dari Allah ke jalan yang lurus.
وَتِلْكَ حُجَّتُنَآ اٰتَيْنٰهَآ اِبْرٰهِيْمَ عَلٰى قَوْمِهٖۗ نَرْفَعُ دَرَجٰتٍ مَّنْ نَّشَاۤءُۗ اِنَّ رَبَّكَ حَكِيْمٌ عَلِيْمٌ
Wa tilka ḥujjatunā ātaināhā ibrāhīma ‘alā qaumih(ī), narfa‘u darajātim man nasyā'(u), inna rabbaka ḥakīmun ‘alīm(un).
Itulah keterangan yang Kami anugerahkan kepada Ibrahim untuk menghadapi kaumnya. Kami tinggikan orang yang Kami kehendaki beberapa derajat. Sesungguhnya Tuhanmu Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui.
Qari: Ibrahim Al-Dossari
Tafsir Surat Al-An'am Ayat 83
Untuk menarik minat kaumnya agar kembali kepada agama tauhid dan sebagai hiburan terhadap perjuangan Nabi Ibrahim, Allah menjanjikan bahwa Allah akan mengangkat derajat hamba-hamba yang dikehendaki-Nya beberapa derajat, dalam bidang ilmu pengetahuan dan hikmah atau kearifan dan derajat yang diperoleh Nabi Ibrahim adalah kemampuan memberikan hujjah, kemampuan memimpin dan bertindak bijaksana. Kesemuanya adalah derajat kesempurnaan. Selain itu, ia juga diberi derajat kenabian dan kerasulan yang merupakan derajat tertinggi yang dapat dicapai manusia. Hal ini sesuai dengan firman Allah:
Rasul-rasul itu Kami lebihkan sebagian mereka dari sebagian yang lain. Di antara mereka ada yang (langsung) Allah berfirman dengannya dan sebagian lagi ada yang ditinggikan-Nya beberapa derajat. (al-Baqarah/2: 253)
Pada akhir ayat ini Allah menegaskan bahwa Dia Mahabijaksana dalam mengangkat atau menjatuhkan derajat seseorang. Dia juga Maha Mengetahui keadaan orang yang berhak menerima derajat itu.
وَوَهَبْنَا لَهٗٓ اِسْحٰقَ وَيَعْقُوْبَۗ كُلًّا هَدَيْنَا وَنُوْحًا هَدَيْنَا مِنْ قَبْلُ وَمِنْ ذُرِّيَّتِهٖ دَاوٗدَ وَسُلَيْمٰنَ وَاَيُّوْبَ وَيُوْسُفَ وَمُوْسٰى وَهٰرُوْنَ ۗوَكَذٰلِكَ نَجْزِى الْمُحْسِنِيْنَۙ
Wa wahabnā lahū isḥāqa wa ya‘qūb(a), kullan hadainā wa nūḥan hadainā min qablu wa min żurriyyatihī dāwūda wa sulaimāna wa ayyūba wa yūsufa wa mūsā wa hārūna wa każālika najzil-muḥsinīn(a).
Kami telah menganugerahkan kepadanya Ishaq dan Ya‘qub. Tiap-tiap mereka telah Kami beri petunjuk. Sebelumnya Kami telah menganugerahkan petunjuk kepada Nuh. (Kami juga menganugerahkan petunjuk) kepada sebagian dari keturunannya, yaitu Daud, Sulaiman, Ayyub, Yusuf, Musa, dan Harun. Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat kebaikan.
Qari: Ibrahim Al-Dossari
Tafsir Surat Al-An'am Ayat 84
Nabi Ishak putera Ibrahim disebutkan secara tersendiri dalam ayat ini karena adanya hal yang menarik perhatian, yang termasuk ke dalam tanda-tanda kekuasaan Allah, yaitu ia dilahirkan setelah Nabi Ibrahim lanjut usianya, sedang Sarah istrinya sudah lanjut usia belum punya anak, dan sudah tidak punya harapan untuk melahirkan, seperti diterangkan dalam firman Allah:
Dia (istrinya) berkata, "Sungguh ajaib, mungkinkah aku akan melahirkan anak padahal aku sudah tua, dan suamiku ini sudah sangat tua? Ini benar-benar sesuatu yang ajaib." (Hud/11: 72)
Ini adalah merupakan anugerah Allah baginya atas kekuatan imannya, ketekunan berbuat kebajikan serta ketabahannya menghadapi berbagai cobaan Allah.
Hidayah yang diterima oleh Ibrahim dan keturunannya yang saleh sama dengan yang pernah diberikan kepada Nabi Nuh sebelumnya, yaitu hidayah agama tauhid.
Penyebutan Nabi Nuh di sini, agar manusia dapat memahami bahwa tidak selalu hamba-hamba Allah yang saleh akan menurunkan putera-putera yang saleh pula, seperti Nabi Nuh. Beliau seorang Nabi yang saleh, tetapi puteranya seorang yang sesat, tenggelam bersama orang-orang kafir karena tidak mau mematuhi perintah ayahnya. Hal itu adalah kebalikan dari Nabi Ibrahim ayahnya seorang pemuja patung, tetapi dia sendiri hanif, berserah diri kepada Allah.
Di antara keturunan-keturunan Nabi Ibrahim yang saleh lainnya disebutkan dalam ayat ini ialah Daud putera Sulaiman, Ayyub, Yusuf, Musa dan Harun a.s. Kesemuanya ini di samping diberi derajat kenabian, juga diberi kedudukan yang tinggi. Daud dan Sulaiman menjadi raja pemimpin yang mulia akhlaknya. Ayyub dan Yusuf walaupun bukan raja, tetapi punya pengaruh dan sangat dekat dengan penguasa. Yusuf sendiri menjadi menteri yang dapat menguasai dan mengatasi kesulitan-kesulitan rakyat. Sedangkan Musa dan Harun meskipun tidak menjadi raja, tetapi diberikan kepemimpinan dan kemampuan menyelamatkan kaumnya dari penindasan.
Pada akhir ayat ini dijelaskan bahwa Allah akan memberikan balasan yang setimpal kepada mereka yang berbuat baik, yaitu mereka yang selalu berpedoman kepada tuntunan Allah dan berpegang kepada kebenaran.
وَزَكَرِيَّا وَيَحْيٰى وَعِيْسٰى وَاِلْيَاسَۗ كُلٌّ مِّنَ الصّٰلِحِيْنَۙ
Wa zakariyyā wa yaḥyā wa ‘īsā wa ilyās(a), kullum minaṣ-ṣāliḥīn(a).
(Demikian juga kepada) Zakaria, Yahya, Isa, dan Ilyas. Semuanya termasuk orang-orang yang saleh.
Qari: Ibrahim Al-Dossari
Tafsir Surat Al-An'am Ayat 85
وَاِسْمٰعِيْلَ وَالْيَسَعَ وَيُوْنُسَ وَلُوْطًاۗ وَكُلًّا فَضَّلْنَا عَلَى الْعٰلَمِيْنَۙ
Wa ismā‘īla wal-yasa‘a wa yūnusa wa lūṭā(n), wa kullan faḍḍalnā ‘alal-‘ālamīn(a).
(Begitu juga kepada) Ismail, Ilyasa’, Yunus, dan Lut. Tiap-tiap mereka Kami lebihkan daripada (umat) seluruh alam (pada masanya).
Qari: Ibrahim Al-Dossari
Tafsir Surat Al-An'am Ayat 86
Di antara mereka ada yang diutus dalam satu masa, seperti Nabi Luth, semasa dengan Nabi Ibrahim dan Ismail semasa dengan Ishak. Mereka sama-sama memiliki keutamaan, meskipun pada hakikatnya keutamaan yang dimiliki masing-masing berbeda-beda.
وَمِنْ اٰبَاۤىِٕهِمْ وَذُرِّيّٰتِهِمْ وَاِخْوَانِهِمْ ۚوَاجْتَبَيْنٰهُمْ وَهَدَيْنٰهُمْ اِلٰى صِرَاطٍ مُّسْتَقِيْمٍ
Wa min ābā'ihim wa żurriyyātihim wa ikhwānihim, wajtabaināhum wa hadaināhum ilā ṣirāṭim mustaqīm(in).
(Kami lebihkan pula) sebagian dari nenek moyang mereka, keturunan mereka, dan saudara-saudara mereka. Kami telah memilih mereka (menjadi nabi dan rasul) dan Kami memberi mereka petunjuk menuju jalan yang lurus.
Qari: Ibrahim Al-Dossari
Tafsir Surat Al-An'am Ayat 87
Ayat ini merupakan penegasan dari ayat-ayat yang lalu yaitu keutamaan-keutamaan yang diberikan oleh Allah kepada pendahulu Nabi Ibrahim, yaitu Nuh dan keturunannya, yaitu Ishak, Ya'kub, Daud, Sulaiman, Ayyub, Yunus, Musa dan Harun.
Di samping itu Allah menjelaskan pula bahwa Dia memberikan keutamaan juga kepada keluarganya ke samping yaitu anak saudara Nabi Ibrahim yang membantunya dalam memperjuangkan tauhid, yang ikut bersamanya hijrah ke negeri Syam, yaitu Lut yang kemudian diutus ke negeri Sodom. Mereka diberi limpahan oleh Allah dengan karunia hidayah, sehingga dapat mencapai kemuliaan yang tidak ternilai dan terpimpin ke jalan yang lurus, jalan yang menuju kepada kebahagiaan dunia dan akhirat.
ذٰلِكَ هُدَى اللّٰهِ يَهْدِيْ بِهٖ مَنْ يَّشَاۤءُ مِنْ عِبَادِهٖ ۗوَلَوْ اَشْرَكُوْا لَحَبِطَ عَنْهُمْ مَّا كَانُوْا يَعْمَلُوْنَ
Żālika hudallāhi yahdī bihī may yasyā'u min ‘ibādih(ī), wa lau asyrakū laḥabiṭa ‘anhum mā kānū ya‘malūn(a).
Demikian itu petunjuk Allah. Dengannya Dia memberi petunjuk kepada siapa saja di antara hamba-hamba-Nya yang Dia kehendaki. Seandainya mereka mempersekutukan Allah, pasti sia-sialah amal yang telah mereka kerjakan.
Qari: Ibrahim Al-Dossari
Tafsir Surat Al-An'am Ayat 88
Dengan hidayah itulah mereka membela tauhid dan mengamalkan ajaran-ajaran-Nya secara ikhlas serta memberantas penyembahan berhala-berhala dan pemujaan bintang-bintang. Hidayah yang diterima itu adalah hidayah yang tidak dapat diusahakan oleh manusia. Hidayah ini hanya dicapai oleh orang-orang yang dikehendaki Allah.
Pada akhir ayat ini Allah memberikan peringatan kepada orang-orang yang beriman dan berjalan di bawah naungan hidayah-Nya, bahwa apabila mereka itu menyeleweng dari agama tauhid dan menyembah sembahan lain, niscaya Allah akan menghapuskan segala pahala dari amal perbuatan yang mereka lakukan.
Meskipun tauhid itu mensucikan hati, namun apabila kesucian hati itu dinodai oleh syirik, betapa pun kecilnya, maka hilanglah kesucian hati itu dan lenyap pulalah hasil usaha yang telah dilakukan sebelumnya. Hal ini sesuai dengan firman Allah:
Dan sungguh, telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi) yang sebelummu, "Sungguh, jika engkau mempersekutukan (Allah), niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah engkau termasuk orang yang rugi. (az-Zumar/39: 65)
اُولٰۤىِٕكَ الَّذِيْنَ اٰتَيْنٰهُمُ الْكِتٰبَ وَالْحُكْمَ وَالنُّبُوَّةَ ۚفَاِنْ يَّكْفُرْ بِهَا هٰٓؤُلَاۤءِ فَقَدْ وَكَّلْنَا بِهَا قَوْمًا لَّيْسُوْا بِهَا بِكٰفِرِيْنَ
Ulā'ikal-lażīna ātaināhumul-kitāba wal-ḥukma wan-nubuwwah(ta), fa iy yakfur bihā hā'ulā'i faqad wakkalnā bihā qaumal laisū bihā bikāfirīn(a).
Mereka itulah orang-orang yang telah Kami anugerahi kitab, hikmah, dan kenabian. Jika orang-orang (Quraisy) itu mengingkarinya, Kami akan menyerahkannya kepada kaum yang tidak mengingkarinya.
Qari: Ibrahim Al-Dossari
Tafsir Surat Al-An'am Ayat 89
Di antara mereka ada yang diberi Kitab yang memuat pedoman-pedoman hidup di dalam memimpin kaumnya ke jalan yang benar serta kemampuan dalam memutuskan perkara-perkara yang terjadi di antara kaumnya, seperti Nabi Ibrahim, Musa, Isa dan Daud, yang diterangkan Allah dalam firman-Nya:
(Ibrahim berdoa), "Ya Tuhanku, berikanlah kepadaku ilmu dan masukkanlah aku ke dalam golongan orang-orang yang saleh." (asy-Syu'ara'/26: 83)
Firman Allah:
¦ kemudian Tuhanku menganugerahkan ilmu kepadaku serta Dia menjadikan aku salah seorang di antara rasul-rasul. (asy-Syu'ara'/26:21)
Firman Allah:
"Wahai Daud! Sesungguhnya engkau Kami jadikan khalifah (penguasa) di bumi, maka berilah keputusan (perkara) di antara manusia dengan adil¦" (shad/38: 26)
Di antara mereka ada pula yang diberi hikmah dan kenabian untuk menuntun manusia, yaitu mereka yang diutus sezaman dengan Nabi Musa atau sesudahnya, sebelum kedatangan Nabi Isa seperti Harun, Zakaria dan Yahya as.
Juga di antara mereka ada yang diberi hikmah di kala masih kecil seperti Yahya, firman Allah:
"Wahai Yahya! Ambillah (pelajarilah) Kitab (Taurat) itu dengan sungguh-sungguh." Dan Kami berikan hikmah kepadanya (Yahya) selagi dia masih kanak-kanak ." (Maryam/19: 12)
Lebih jelasnya, penyebutan nama para nabi dalam konteks Nabi Ibrahim adalah karena beberapa hal sebagaimana uraian di bawah ini:
Para nabi yang disebutkan dalam ayat-ayat yang lalu, di samping kedudukannya sebagai nabi, juga diberi keistimewaan yang berbeda-beda. Mereka dapat dikelompokkan dalam tiga golongan:
Kelompok yang pertama, yang disebut adalah putra Ibrahim yang tidak berpisah dengannya, yaitu Ishak, lalu cucunya yaitu Ya'kub, karena Ya'kub merupakan ayah dari anak cucu pembawa ajaran ilahi. Kemudian Nabi Nuh disisipkan dengan tujuan untuk mengingatkan bahwa betapapun tingginya derajat seseorang, ia tidak boleh melupakan leluhurnya. Apalagi Nabi Nuh adalah kakek kesepuluh Nabi Ibrahim yang paling mulia, karena beliaulah manusia pertama yang melarang penyembahan berhala.
Pada ayat 84 disebut nama Nabi Daud, Sulaiman, Ayyub, Yusuf, Musa dan Harun. Nabi Daud dan Sulaiman disebut pertama karena keduanya membangun rumah ibadah (Masjidil Aqsa), seperti yang dilakukan Nabi Ibrahim dan Ismail membangun Ka'bah. Penyebutan Nabi Ayyub dan Yusuf secara berurut karena keduanya, walaupun bukan penguasa, tetapi mempunyai pengaruh dan sangat dekat dengan penguasa. Keduanya digabungkan karena memiliki kesamaan, yaitu masing-masing ditinggal oleh keluarga, walau akhirnya keduanya dapat bertemu kembali.
Nabi Musa dan Harun disebut sesudah Yusuf karena Nabi Musa yang dibantu Nabi Harun berhasil menundukkan penguasa pada masanya serta dapat mensejahterakan kaumnya.
Setelah menyebut nabi-nabi yang menjadi raja, lalu penguasa bukan raja, dan nabi yang menundukkan penguasa, maka selanjutnya disebut nabi-nabi yang dikalahkan penguasa. Urutan pertama adalah Nabi Zakaria dan Nabi Yahya, karena keduanya dibunuh penguasa pada masanya. Kemudian disebut Nabi Isa dan Nabi Ilyas, karena keduanya akan dibunuh, tetapi berhasil diselamatkan Allah. Akhirnya disebut nama nabi-nabi yang berhubungan dengan kekuasaan, yaitu Ismail, Ilyasa', Yunus dan Lut.
Dengan ringkas dapat dikatakan bahwa tiap-tiap nabi yang diberi Kitab tentu diberi pula hikmah atau kearifan sebagai senjata untuk memutuskan perkara di samping diberi nubuwah. Akan tetapi tidak semua Nabi diberi kekuasaan memutus perkara dan diberi Kitab.
Allah menegaskan bahwa apabila orang-orang musyrik penduduk Mekah dan orang-orang yang mempunyai sifat yang sama, mengingkari Kitab, hikmah dan kenabian yang diberikan kepada para nabi, maka Allah akan menyerahkan derajat kemuliaan yang dijanjikan itu kepada umat lain yang tidak mengingkari apa yang disampaikan oleh nabi itu.
Dimaksudkan dengan orang-orang yang mengingkari keutamaan para nabi ialah orang kafir penduduk Mekah, sedang yang dimaksud dengan orang-orang yang tidak mengingkari ialah penduduk Medinah.
اُولٰۤىِٕكَ الَّذِيْنَ هَدَى اللّٰهُ فَبِهُدٰىهُمُ اقْتَدِهْۗ قُلْ لَّآ اَسْـَٔلُكُمْ عَلَيْهِ اَجْرًاۗ اِنْ هُوَ اِلَّا ذِكْرٰى لِلْعٰلَمِيْنَ ࣖ
Ulā'ikal-lażīna hadallāhu fa bihudāūhumuqtadih, qul lā as'alukum ‘alaihi ajrā(n), in huwa illā żikrā lil-‘ālamīn(a).
Mereka itulah (para nabi) yang telah diberi petunjuk oleh Allah. Maka, ikutilah petunjuk mereka. Katakanlah (Nabi Muhammad), “Aku tidak meminta imbalan kepadamu atasnya (menyampaikan Al-Qur’an).” (Al-Qur’an) itu hanyalah peringatan untuk (umat) seluruh alam.
Qari: Ibrahim Al-Dossari
Tafsir Surat Al-An'am Ayat 90
Firman Allah:
Dan semua kisah rasul-rasul, Kami ceritakan kepadamu (Muhammad), agar dengan kisah itu Kami teguhkan hatimu. (Hud/11: 120)
Firman Allah:
Dan sesungguhnya rasul-rasul sebelum engkau pun telah didustakan, tetapi mereka sabar terhadap pendustaan dan penganiayaan (yang dilakukan) terhadap mereka, sampai datang pertolongan Kami kepada mereka. (al-An'am/6: 34)
Syariat yang berlaku bagi nabi-nabi sebelum kedatangan Nabi Muhammad, adalah juga merupakan syariat bagi umat Islam, selama belum dicabut, diubah ataupun diganti dengan syariat yang dibawa oleh Nabi Muhammad. Sedangkan yang abadi dan mempunyai kesamaan adalah dasar-dasar agama tauhid yang tidak berubah sepanjang zaman, sedangkan syariat-syariat dari masing-masing nabi itu dapat berubah-ubah sesuai dengan waktu, tempat dan keadaan, dan menurut kehendak Allah.
Nabi Muhammad mempunyai derajat yang tertinggi di antara para nabi dan rasul, karena beliau di samping diberi kenabian juga diberi mukjizat yang abadi yaitu Al-Qur'an, yang membenarkan kitab-kitab yang diturunkan sebelumnya dan karena syariatnya berlaku terus sampai akhir zaman.
Allah memerintahkan kepada Nabi Muhammad bahwa dia dalam menyampaikan wahyu dan menegakkan kebenaran, jangan mengharapkan sedikit pun upah dari umatnya sebagaimana juga nabi-nabi terdahulu.
Nabi Muhammad sebagaimana halnya nabi-nabi yang lain tidak mengharapkan imbalan dalam berdakwah. Namun, Nabi Muhammad mengharapkan kasih sayang dalam kekeluargaan, seperti ditegaskan dalam firman-Nya:
"Aku tidak meminta kepadamu sesuatu imbalan pun atas seruanku kecuali kasih sayang dalam kekeluargaan." (asy-Syura/42: 23)
Pada akhir ayat ini Allah memberikan penegasan bahwa Al-Qur'an diturunkan untuk seluruh umat manusia. Ayat ini memberikan isyarat bahwa Nabi Muhammad tidak diutus untuk orang Mekah atau Medinah saja, tetapi diutus untuk seluruh umat manusia di seluruh dunia untuk membimbing mereka ke jalan yang benar dan bebas dari kesesatan.