Surat At-Takwir
Surat At-Takwir
(Qari: Ibrahim Al-Dossari)
0 0
مُّطَاعٍ ثَمَّ اَمِيْنٍۗ
Muṭā‘in ṡamma amīn(in).
yang di sana (Jibril) ditaati lagi dipercaya.
Qari: Ibrahim Al-Dossari
Tafsir Surat At-Takwir Ayat 21
1.Yang mulia pada sisi Tuhannya karena Allah memberikan padanya sesuatu yang paling berharga yaitu hidayah, dan memerintahkannya untuk menyampaikan hidayah itu kepada para nabi-Nya diteruskan kepada para hamba-Nya.
2.Yang mempunyai kekuatan dalam memelihara Al-Qur'an jauh dari sifat pelupa atau keliru.
3.Yang mempunyai kedudukan tinggi di sisi Allah yang mempunyai 'Arasy.
4.Yang ditaati di kalangan malaikat karena kewenangannya.
5.Yang dipercaya untuk menyampaikan wahyu karena terpelihara dari sifat-sifat khianat dan penyelewengan.
وَمَا صَاحِبُكُمْ بِمَجْنُوْنٍۚ
Wa mā ṣāḥibukum bimajnūn(in).
Temanmu (Nabi Muhammad) itu bukanlah orang gila.
Qari: Ibrahim Al-Dossari
Tafsir Surat At-Takwir Ayat 22
Kalimat "temanmu" dalam ayat ini merupakan alasan untuk menerangkan kedustaan mereka. Sebab, setiap orang akan mengenal tabiat temannya yang sehari-hari bergaul dengannya. Orang-orang Quraisy itu selalu bergaul dengan Nabi Muhammad semenjak beliau masih kecil dan mengetahui kejujuran beliau. Oleh karena itu, mereka memberikan julukan kehormatan kepadanya dengan kata-kata "al-Amin" sebelum beliau menjadi nabi.
Beliau tidak pernah berdusta, menyalahi janji, atau berkhianat, sehingga apa-apa yang dituduhkan kepada Nabi Muhammad itu tentang sifat gila, tukang sihir, atau pendusta adalah bohong semata.
وَلَقَدْ رَاٰهُ بِالْاُفُقِ الْمُبِيْنِۚ
Wa laqad ra'āhu bil-ufuqil-mubīn(i).
Sungguh, dia (Nabi Muhammad) benar-benar telah melihatnya (Jibril) di ufuk yang terang.
Qari: Ibrahim Al-Dossari
Tafsir Surat At-Takwir Ayat 23
Dan sungguh, dia (Muhammad) telah melihatnya (dalam rupanya yang asli) pada waktu yang lain, (yaitu) di Sidratul Muntaha. (an-Najm/53: 13-14)
وَمَا هُوَ عَلَى الْغَيْبِ بِضَنِيْنٍۚ
Wa mā huwa ‘alal-gaibi biḍanīn(in).
Dia (Nabi Muhammad) bukanlah seorang yang kikir (enggan) untuk menerangkan yang gaib.
Qari: Ibrahim Al-Dossari
Tafsir Surat At-Takwir Ayat 24
وَمَا هُوَ بِقَوْلِ شَيْطٰنٍ رَّجِيْمٍۚ
Wa mā huwa biqauli syaiṭānir rajīm(in).
(Al-Qur’an) itu bukanlah perkataan setan yang terkutuk.
Qari: Ibrahim Al-Dossari
Tafsir Surat At-Takwir Ayat 25
فَاَيْنَ تَذْهَبُوْنَۗ
Fa aina tażhabūn(a).
Maka, ke manakah kamu akan pergi?
Qari: Ibrahim Al-Dossari
Tafsir Surat At-Takwir Ayat 26
اِنْ هُوَ اِلَّا ذِكْرٌ لِّلْعٰلَمِيْنَۙ
In huwa illā żikrul lil-‘ālamīn(a).
(Al-Qur’an) itu tidak lain, kecuali peringatan bagi semesta alam,
Qari: Ibrahim Al-Dossari
Tafsir Surat At-Takwir Ayat 27
لِمَنْ شَاۤءَ مِنْكُمْ اَنْ يَّسْتَقِيْمَۗ
Liman syā'a minkum ay yastaqīm(a).
(yaitu) bagi siapa di antaramu yang hendak menempuh jalan yang lurus.
Qari: Ibrahim Al-Dossari
Tafsir Surat At-Takwir Ayat 28
وَمَا تَشَاۤءُوْنَ اِلَّآ اَنْ يَّشَاۤءَ اللّٰهُ رَبُّ الْعٰلَمِيْنَ ࣖ
Wa mā tasyā'ūna illā ay yasyā'allāhu rabbul-‘ālamīn(a).
Kamu tidak dapat berkehendak, kecuali apabila dikehendaki Allah, Tuhan semesta alam.
Qari: Ibrahim Al-Dossari